Jumat, 27 April 2012

Pendidikan Anak Usia Dini

Pendidikan anak usia dini

Mengacu Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003, Pasal 1 Butir 14 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Pendidikan dasar

Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan awal selama 9 (sembilan) tahun pertama masa sekolah anak-anak yang melandasi jenjang pendidikan menengah.

Pendidikan menengah

Pendidikan menengah merupakan jenjang pendidikan lanjutan pendidikan dasar.

Pendidikan tinggi

Pendidikan tinggi adalah jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, doktor, dan spesialis yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi.
Kelas Usia
Taman kanak-kanak
Kelompok bermain 4
Kelompok A 5
Kelompok B 6
Sekolah dasar
Kelas 1 7
Kelas 2 8
Kelas 3 9
Kelas 4 10
Kelas 5 11
Kelas 6 12
Sekolah menengah pertama
Kelas 7 13
Kelas 8 14
Kelas 9 15
Sekolah menengah atas/kejuruan
Kelas 10 16
Kelas 11 17
Kelas 12 18
Akademi/Institut/Politeknik/Sekolah tinggi/Universitas
Sarjana berbagai usia (selama kurang lebih 4 tahun)
Magister berbagai usia (selama kurang lebih 2 tahun)
Doktor berbagai usia (selama kurang lebih 2 tahun)

Jalur pendidikan

Jalur pendidikan adalah wahana yang dilalui peserta didik untuk mengembangkan potensi diri dalam suatu proses pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan.

Pendidikan formal

Pendidikan formal merupakan pendidikan yang diselenggarakan di sekolah-sekolah pada umumnya. Jalur pendidikan ini mempunyai jenjang pendidikan yang jelas, mulai dari pendidikan dasar, pendidikan menengah, sampai pendidikan tinggi.

Pendidikan nonformal

Pendidikan nonformal paling banyak terdapat pada usia dini, serta pendidikan dasar, adalah TPA, atau Taman Pendidikan Al Quran,yang banyak terdapat di setiap mesjid dan Sekolah Minggu, yang terdapat di semua gereja.
Selain itu, ada juga berbagai kursus, diantaranya kursus musik, bimbingan belajar dan sebagainya.

Pendidikan informal

Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri yang dilakukan secara sadar dan bertanggung jawab.

Jenis

Jenis pendidikan adalah kelompok yang didasarkan pada kekhususan tujuan pendidikan suatu satuan pendidikan.

Pendidikan umum

Pendidikan umum merupakan pendidikan dasar dan menengah yang mengutamakan perluasan pengetahuan yang diperlukan oleh peserta didik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Bentuknya: sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), dan sekolah menengah atas (SMA).

Pendidikan kejuruan

Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Bentuk satuan pendidikannya adalah sekolah menengah kejuruan (SMK).

Pendidikan akademik

Pendidikan akademik merupakan pendidikan tinggi program sarjana dan pascasarjana yang diarahkan terutama pada penguasaan disiplin ilmu pengetahuan tertentu.

Pendidikan profesi

Pendidikan profesi merupakan pendidikan tinggi setelah program sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memasuki suatu profesi atau menjadi seorang profesional.

Pendidikan vokasi

Pendidikan vokasi merupakan pendidikan tinggi yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan keahlian terapan tertentu maksimal dalam jenjang diploma 4 setara dengan program sarjana (strata 1).

Pendidikan keagamaan

Pendidikan keagamaan merupakan pendidikan dasar, menengah, dan tinggi yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan dan pengalaman terhadap ajaran agama dan /atau menjadi ahli ilmu agama.

Pendidikan khusus

Pendidikan khusus merupakan penyelenggaraan pendidikan untuk peserta didik yang berkebutuhan khusus atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan secara inklusif (bergabung dengan sekolah biasa) atau berupa satuan pendidikan khusus pada tingkat pendidikan dasar dan menengah (dalam bentuk sekolah luar biasa/SLB)

Selasa, 24 April 2012

Tugas Kelompok Pendidikan

Anggota Kelompok:
Gustina Handayani ( 11-016 )
Rifany M.Y. Saragih ( 11-064 )
Eldaa Kristy ( 11-072 )
Mianty Shanen ( 11-084 )


1. Persinggungan antara teknologi dan pendidikan:
 
Dewasa ini, teknologi dan pendidikan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Dapat dilihat dari peran teknologi sebagai media pendukung dalam proses pendidikan. Dengan adanya teknologi, proses pembelajaran akan menjadi lebih aktif, eksploratif, dan interaktif dibandingkan dengan hanya membaca buku atau mendengar penjelasan guru, sehingga kita mendapatkan wawasan sesuai dengan perkembangan zaman.

2.  Konteks melek teknologi di Indonesia:

Konteks ini di Indonesia, khususnya di Medan sendiri semakin berkembang. Hal ini bisa dilihat dari pengenalan teknologi sebagai media pembelajaran yang dimulai sejak Sekolah Dasar (SD). Bahkan PR yang diberikan guru di sekolah, mengharuskan mereka menggunakan teknologi untuk menyelesaikannya. Semakin tinggi grade atau tingkatan sekolah (SMP maupun SMA sederajat), maka semakin tinggi pula kebutuhan akan teknologi untuk membantu proses pembelajaran mereka di sekolah. Begitu pula sebaliknya, teknologi yang semakin canggih membuat kita semakin ingin tahu tentang kemajuan teknologi tersebut.

3.  Apa yang dimaksud Ubiquitous Computing dan pandangan kelompok sebagai mahasiswa yang sedang mempelajari mata kuliah Psikologi Pendidikan:

Ubiquitous computing adalah era komputer, dimana teknologi dan komputer, eksis dan melatarbelakangi kehidupan manusia. Menurut pandangan kelompok kami, sebagai mahasiswa yang sedang mempelajari mata kuliah psikologi pendidikan, kita dituntut untuk terbuka mempelajari ataupun meningkatkan pengetahuan dan kompetensi di bidang teknologi. Ubiquitous computing ini memiliki dampak positif dalam kehidupan kita, yakni segala sesuatunya (khususnya bidang pendidikan) akan menjadi lebih praktis. Dari sisi negatifnya, manusia akan semakin individualis atau self-centered. Karena dengan eksisnya teknologi di dunia manusia, manusia akan merasa ia dapat melakukan segala sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain.

Senin, 09 April 2012

Diskusi Psikologi Sekolah

Christine Verawaty Simatupang  (11-068)
Eldaa Kristy Tophano S             (11-072)
Eva F.Berahmawati                    (11-126)


*      Kedudukan psikologi sekolah dalam ilmu psikologi
Psikologi sekolah adalah salah satu cabang dari psikologi pendidikan. Ada pun tujuan dari psikologi sekolah adalah berusaha menciptakan situasi yang mendukung bagi anak didik dalam mengembangkan kemampuan akademik, sosialisasi, dan emosi. Yang bertujuan untuk membentuk mind set anak
*      Perbedaan psikologi sekolah dengan psikologi pendidikan
Psikologi pendidikan merupakan gabungan dari psikologi perkembangan dan psikologi sosial, sehingga hampir sebagian besar teori-teori yang ada dalam psikologi perkembangan dan psikologi sosial digunakan di psikologi pendidikan. Tujuan mempelajari psikologi pendidikan adalah untuk mempelajari bagaimana manusia belajar dalam setting pendidikan, keefektifan sebuah pengajaran, cara mengajar, dan pengelolaan organisasi sekolah.
Psikologi sekolah adalah salah satu bidang dari beberapa bidang psikologi pendidikan. Tujuan adanya psikologi sekolah adalah berusaha menciptakan situasi yang mendukung bagi anak didik dalam mengembangkan kemampuan akademik, sosialisasi, dan emosi.
Jadi, dari kedua arti dan tujuan di atas, dapat kita lihat bahwa ada perbedaan antarapsikologi pendidikan dan psikologi sekolah. Psikologi pendidikan adalah pokoknya, sedangkan psikologi sekolah adalah cabangnya. Psikologi pendidikan berhubungan dengan cara pengajaran, sedangkan psikologi sekolah berhubungan dengan dengan anak didik di sebuah instansi sekolah.

*      Fungsi sekolah sebagai agen perubahan
Lembaga Pendidikan (baik formal, non formal atau informal) adalah tempat transfer ilmu pengetahuan dan budaya (peradaban). Melalui praktik pendidikan, peserta didik diajak untuk memahami bagaimana sejarah atau pengalaman budaya dapat ditransformasi dalam zaman kehidupan yang akan mereka alami serta mempersiapkan mereka dalam menghadapi tantangan dan tuntutan yang ada di dalamnya. Dengan demikian, makna pengetahuan dan kebudayaan sering kali dipaksakan untuk dikombinasikan karena adanya pengaruh zaman terhadap pengetahuan jika ditransformasikan.
Oleh karena itu pendidikan nasional bertujuan mempersiapkan masyarakat baru yang lebih ideal, yaitu masyarakat yang mengerti hak dan kewajiban dan berperan aktif dalam proses pembangunan bangsa. Esensi dari tujuan pendidikan nasional adalah proses menumbuhkan bentuk budaya keilmuan, sosial, ekonomi, dan politik yang lebih baik dalam perspektif tertentu harus mengacu pada masa depan yang jelas (pembukaan UUD 1945 alenia 4). Melalui kegiatan pendidikan, gambaran tentang masyarakat yang ideal itu dituangkan dalam alam pikiran peserta didik sehingga terjadi proses pembentukan dan perpindahan budaya. Pemikiran ini mengandung makna bahwa lembaga pendidikan sebagai tempat pembelajaran manusia memiliki fungsi sosial (agen perubahan di masyarakat).
*      Metode yang dapat digunakan dalam sistem pengajaran di sekolah
Metode dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) ada banyak sekali, tergantung dengan penguasaan teknik dan materi yang akan disampaikan. Metode belajar mengajar dapat diartikan sebagai cara-cara yang dilakukan untuk menyampaikan atau menanamkan pengetahuan kepada subjek didik, murid, atau anak melalui sebuah kegiatan belajar mengajar, baik di sekolah, rumah, kampus, pondok, dll.
Matode yang biasa atau umum digunakan dalam proses belajar mengajar antara lain berbentuk ceramah, tanya jawab, pemberian tugas dan metode demonstrasi (praktek).
1. Metode Belajar Mengajar ‘Ceramah’
Metode ceramah adalah sebuah bentuk interaksi melalui penerangan dan penuturan secara lisan oleh seseorang guru terhadap kelasnya. Dalam pelaksanaan ceramah untuk menjelaskan urainnya, guru dapat menggunakan alat-alat bantu, seperti gambar- gambar dan yang paling utama adalah bahasa lisan. Metode ceramah adalah metode mengajar yang sampai saat ini masih mendominasi atau paling banyak di gunakan guru dalam dunia pendidikan.
2. Metode Belajar Mengajar ‘Tanya Jawab’
Metode tanya jawab ialah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru ke siswa dan begitu juga sebaliknya. Metode ini banyak digunakan dalam proses belajar mengajar, baik di lingkungan keluarga, masyarakat maupun sekolah. Dan metode ini merupakan salah satu teknik mengajar yang dapat membantu kekurangan- kekurangan pada metode ceramah, dikarenakan apabila suatu penjelasan guru yang belum dimengerti, maka siswa/anak didik dapat langsung menanyakan pada guru.
3. Metode Belajar Mengajar ‘Pemberian Tugas’
Metode pemberian tugas adalah suatu cara dalam proses belajar mengajar di mana guru memberi tugas tertentu dan murid mengerjakannya, kemudian tugas tersebut dipertanggung jawabkan kepada guru. Dalam hal ini guru memberikan tugas pada murid untuk maju ke depan kelas untuk medemonstrasikan apa yang diajarkan guru. Dalam pendidikan agama sering digunakan metode ini terutama dalam hal yang bersifat praktis, sehingga siswa mempunyai gambaran yang jelas tentang materi pelajaran yang telah diterimanya.
5. Metode Belajar Mengajar ‘Demostrasi/Praktek’
Metode Demostrasi atau praktik adalah metode mengajar yang menggunakan peragaan untuk memperjelas suatu pengertian atau untuk memperlihatkan bagaimana melakukan sesuatu kepada anak didik. Metode ini digunakan untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang hal-hal yang berhubungan dengan proses yang bersifat praktis, misalnya : bagaimana cara yang benar dalam melaksanakan ibadah sholat, baik cara memulai, mengerjakan maupun cara mengakhiri shalat serta apa saja yang disunnahkan dan membatalkannya.


*      Permasalahan yang terjadi di sekolah dan pemecahannya
Masalah yang sering timbul adalah siswa terlambat masuk, tidak mengerjakan tugas dengan baik, melanggar peraturan sekolah, kesulitan menentukan bakatnya sendiri, minat, dan kemampuannya ( skill), kesulitan beradaptasi dengan lingkungan sekolahnya, sering terjadi tawuran antar sekolah,dan masih banyak yang lainnya.Solusi dari permasalahan tersebut yaitu 1. Adanya konsultasi terhadap guru BK,solusi ini perlu, agar guru mengetahui mengapa anak sampai membuat permasalahan di sekolah.2. adanya dukungan dari orang tua atau bimbingan dan perhatian yang lebih terhadap anaknya, sehingga anaknya merasa bahwa dia di perhatikan. 3.  Guru juga sangat berperan penting dalam perkembangan siswanya, misalnya dengan proses belajar mengajar yang mudah diterima siswanya sehingga tidak lagi kesulitan dalam mengerjakan tugas atau ujian. 4. Sekolah juga harus bertindak dengan tegas, apabila ada siswa yang melanggar peraturan, sehingga siswa tersebut tidak lagi melakukan kesalahan yang sama.
*      Fungsi dan peran psikolog sekolah
Fungsi psikolog sekolah: mengembangkan kemampuan akademik, sosialisasi, dan emosi siswa.
Peran psikolog sekolah:
1. Pelaksanaan tes 
2. Melakukan wawancara dengan siswa, guru, orangtua, serta orang-orang yang terlibat dalam pendidikan siswa 
3. Observasi siswa di kelas, tempat bermain, serta dalam kegiatan sekolah lainnya 
4. Mempelajari data kumulatif prestasi belajar siswa.

*      Hal-hal yang diberikan dalam kaitannya dengan psikologi sekolah
1.      Tes integensi
2.       Tes minat dan bakat
3.      Seminar / ceramah
*      Perbedaan antara psikolog sekolah, psikolog pendidikan dan guru BK
Psikolog sekolah bertugas menciptakan situasi yang mendukung bagi anak didik dalam mengembangkan kemampuan akademik, sosialisasi, dan emosi, melakukan tes, melakukan wawancara dengan siswa, guru, orangtua, serta orang-orang yang terlibat dalam pendidikan siswa, observasi siswa di kelas, tempat bermain, serta dalam kegiatan sekolah lainnya, mempelajari data kumulatif prestasi belajar siswa. Psikolog pendidikan bertugas dalam mempelajari bagaimana manusia belajar dalam setting pendidikan, keefektifan sebuah pengajaran, cara mengajar, dan pengelolaan organisasi sekolah. Sedangkan guru BK bertugas dalam membantu siswa untuk mengembangkan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kemampuan belajar, dan karir.

Kamis, 05 April 2012

Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini

Putri Azura (11-034) Devi Ramadana (11-026)  

Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini




Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal.
Berdasarkan hasil penelitian, sekitar 50% kapabilitaas kecerdasan orang dewasa telah terjadi ketika anak berumur 4 tahun, 80% telah terjadi perkembangan yang pesat tentang jaringan otak ketika anak berumur 8 tahun dan mencapai puncaknya ketika anak berumur 18 tahun, dan setelah itu walaupun dilakukan perbaikan nutrisi tidak akan berpengaruh terhadap perkembangan kognitif.
Menurut Byrnes, bahwa pendidikan anak usia dini itu penting, karena di usia inilah anak membentuk pendidikan yang paling bagus. Di usia inilah anak-anak harus membentuk kesiapan dirinya menghadapi masa sekolah dan masa depan.


Ruang Lingkup Pengembangan Berbagai Aspek dalam PAUD
            Ruang lingkup pengembangan berbagai aspek dalam PAUD meliputi moral dan keagamaan, fisik atau motorik, bahasa, kognitif, sosio-emosional, dan seni.
Moral dan Nilai Keagamaan
Carol Seefeldt, dkk. (2008) menyebutkan bahwa perkembangan keagamaan meliputi pembiasaan perilaku positif, kemandirian, dan disiplin. Nilai moral sangat dibutuhkan agar anak dapat membedakan hal yang baik dan buruk.
Fisik/Motorik
Perkembangan motorik anak memang berbeda sesduai dengan usianya. Pendidik harus bisa membedakan antara motorik kasar dan halus sehingga anak dapat berkembang sesuai dengan usianya. Anak dibawah lima tahun dapaat dirangsang dengan permainan yang edukatif. Misalnya: permainan bola tali yang akan merangsang refleks tangannya.
Bahasa
Dengan mengetahui perkembangan bahasa anak maka dapat diketahui cara menghadapi anak dalam hal berkomunikasi. Jika ada anak yang perkembangan bahasanya lambat maka bisa dirangsang dengan berbagai cara.
Kognitif
Perkembangan kognitif anak mengacu pada perkembangan kecerdasaan anak. Piaget dalam Hariwijaya dan Bertiani Eka Sukaca (2009) menyebutkan bahwa perkembangn kognitif anak dibagi dalam empat periode, yaitu periode sensorimotor, periode praoperasional,periode operasional konkret, dan periode operasional formal.
Sosio-emosional
Perkembangan ini meliputi perkembangan perasaan dan emosi serta pengembangan kemampuan sosial. Anak yang perkembangan sosio-emosinya baik maka akan meningkatkan kepekaan terhadap kehidupan bermasyarakat. Dengan ini anak diharapkan dapat memperoleh kecerdasan intrapersonal, interpersonal, dan naturalistik.
Seni
pengembangan seni dapat dituangkan dalam seni musik, tari, gambar, dan keterampilan kerajinan tangan. Dengan demikian anak diharapkan dapat memiliki kecerdasan musikal dan visual spatial.
Sumber :

Jumat, 23 Maret 2012

KELOMPOK 7

LOUIS LEON THURSTONE
BIOGRAFI
            Louis Leon Thurstone lahir di Chicago pada tanggal 19 Mei 1955. Thurstone merupakan keturunan Swedia asli. Ayah Thurstone merupakan seorang instruktur/pelatih matematika di kemiliteran Swedia, kemudian ayahnya menjadi menteri Luthera, editor surat kabar, dan seorang penerbit. Ibu Thurstone merupakan seseorang yang tertarik dalam bidang musik dan memiliki bakat dalam bidang musik. Adik Thurstone yang bernama Adele (2 tahun lebih muda) telah mulai bermain piano sejak kecil dan akhirnya menyelesaikan kuliahnya pada bidang seni musik.
            Pada saat di bangku SMA, Thurstone memenangkan kompetisi geometri. Pada tahun 1912, Thurstone menerima gelar sarjana di bidang Teknik Mesin di Universitas Cornell. Pada saat kuliah di Universitas Cornell, Thurstone menjadi asisten di laboratorium Thomas Edison. Pada musim gugur tahun 1912, Thurstone menjadi instruktur di bidang teknik mesin di Universitas Minnesota, dimana ia mengajari geometri dan drifting. Di sana ia mengambil pelatihan pertamanya dalam psikologi eksperimen dan memulai pembelajarannya mengenai fungsi pembelajaran. Pada musim panas 1914, ia telah lulus dalam bidang psikologi di Universitas Chicago. Pada musim gugur 1915, Thurstone diterima sebagai asisten di Departemen Psikologi yang masih baru dan aktif di Institut Teknologi Carnegie, dimana penekankannya adalah pada penelitian psikologi terapan. Ia menerima gelar Doktor dari Chicago pada tahun 1917, kemudian ia di promosikan ke Carnegie, hingga ia menerima gelar Professor dan menjadi kepala departemen pada 1920, sebuah posisi yang dipegangnya sampai 1923. Pada musim panas 1924 ia menikah dengan Thelma Gwinn yang merupakan mahasiswi lulusan jurusan psikologi. Pada musim gugur 1924 ia menjadi bagian dari Asosiasi Professor Psikologi di Universitas Chicago. Pada tahun 1952 ia mendirikan Laboratorium Psikometri di Divisi Social Sciences. Thurstone meninggal pada tahun 1955 di Chicago.
DEFINISI INTELIGENSI
Intelegensi merupakan suatu kumpulan dari kemampuan-kemampuan.
KONTRIBUSI IDE-IDE THURSTONE
Louis Leon Thurstone membuat kontribusi yang signifikan dalam berbagai bidang psikologi, termasuk psikometri, statistik, dan studi tentang kecerdasan manusia. Ia mengembangkan metode pada skala tindakan psikologis, sikap menilai, dan teori test, di antara banyak kontribusi lain yang mempengaruhi. Ia lebih di kenal pada pengembangan faktor teknik analisa yang baru dalam menentukan jumlah dan gagasan(konsep) alami dalam satu set variabel yang diamati.
L. L. Thurston tidak menerima wujud faktor-G yang dikemukakan oleh Charles Spearman yang mengemukakan konsep kesatuan inteligensi. Ia tidak menerima wujud kecerdasan umum. Dengan pendekatan menggunakan faktor analisis barunya, Thurstone menemukan bahwa kecerdasan tidak muncul dari faktor umum, melainkan muncul dari tujuh faktor independen yang ia sebut Primary Mental Abilities (1938): word fluency (kelancaran mengutarakan pikiran dengan kata-kata), verbal comprehension (kemampuan untuk memahami bahan verbal, berpikir verbal dan menangkap hubungan antara konsep-konsep), spatial visualization (kemampuan untuk melihat dimensi, mengimaginasikan bentuk akhir sesuatu objek dengan melihatnya pelan-pelan), number fasility (kemampuan menggunakan pikiran untuk angka-angka, dan memperhitungkan secara cepat serta tepat benda-benda yang sifatnya kuantitatif), associative memory (kemampuan untuk mengingat hal-hal yang dialami atau yang dipelajari sebelumnya), reasoning (kemampuan untuk memecahkan persoalan-persoalan secara logika, kemampuan membuat abstraksi dan kemampuan menangkap perhubungan di antara dua hal), dan perceptual speed (kemampuan untuk mengenali persamaan dan perbezaan antara objek-objek atau simbol-simbol secara pantas dan teliti serta dapat menentukan yang paling penting dan yang tidak penting).
Christine Verawaty Simatupang (11-068)Eva F. Brahmana (11-126)Eldaa Kristy Tophano (11-072)
LOUIS LEON THURSTONE
BIOGRAFI
            Louis Leon Thurstone lahir di Chicago pada tanggal 19 Mei 1955. Thurstone merupakan keturunan Swedia asli. Ayah Thurstone merupakan seorang instruktur/pelatih matematika di kemiliteran Swedia, kemudian ayahnya menjadi menteri Luthera, editor surat kabar, dan seorang penerbit. Ibu Thurstone merupakan seseorang yang tertarik dalam bidang musik dan memiliki bakat dalam bidang musik. Adik Thurstone yang bernama Adele (2 tahun lebih muda) telah mulai bermain piano sejak kecil dan akhirnya menyelesaikan kuliahnya pada bidang seni musik.
            Pada saat di bangku SMA, Thurstone memenangkan kompetisi geometri. Pada tahun 1912, Thurstone menerima gelar sarjana di bidang Teknik Mesin di Universitas Cornell. Pada saat kuliah di Universitas Cornell, Thurstone menjadi asisten di laboratorium Thomas Edison. Pada musim gugur tahun 1912, Thurstone menjadi instruktur di bidang teknik mesin di Universitas Minnesota, dimana ia mengajari geometri dan drifting. Di sana ia mengambil pelatihan pertamanya dalam psikologi eksperimen dan memulai pembelajarannya mengenai fungsi pembelajaran. Pada musim panas 1914, ia telah lulus dalam bidang psikologi di Universitas Chicago. Pada musim gugur 1915, Thurstone diterima sebagai asisten di Departemen Psikologi yang masih baru dan aktif di Institut Teknologi Carnegie, dimana penekankannya adalah pada penelitian psikologi terapan. Ia menerima gelar Doktor dari Chicago pada tahun 1917, kemudian ia di promosikan ke Carnegie, hingga ia menerima gelar Professor dan menjadi kepala departemen pada 1920, sebuah posisi yang dipegangnya sampai 1923. Pada musim panas 1924 ia menikah dengan Thelma Gwinn yang merupakan mahasiswi lulusan jurusan psikologi. Pada musim gugur 1924 ia menjadi bagian dari Asosiasi Professor Psikologi di Universitas Chicago. Pada tahun 1952 ia mendirikan Laboratorium Psikometri di Divisi Social Sciences. Thurstone meninggal pada tahun 1955 di Chicago.
DEFINISI INTELIGENSI
Intelegensi merupakan suatu kumpulan dari kemampuan-kemampuan.
KONTRIBUSI IDE-IDE THURSTONE
Louis Leon Thurstone membuat kontribusi yang signifikan dalam berbagai bidang psikologi, termasuk psikometri, statistik, dan studi tentang kecerdasan manusia. Ia mengembangkan metode pada skala tindakan psikologis, sikap menilai, dan teori test, di antara banyak kontribusi lain yang mempengaruhi. Ia lebih di kenal pada pengembangan faktor teknik analisa yang baru dalam menentukan jumlah dan gagasan(konsep) alami dalam satu set variabel yang diamati.
L. L. Thurston tidak menerima wujud faktor-G yang dikemukakan oleh Charles Spearman yang mengemukakan konsep kesatuan inteligensi. Ia tidak menerima wujud kecerdasan umum. Dengan pendekatan menggunakan faktor analisis barunya, Thurstone menemukan bahwa kecerdasan tidak muncul dari faktor umum, melainkan muncul dari tujuh faktor independen yang ia sebut Primary Mental Abilities (1938): word fluency (kelancaran mengutarakan pikiran dengan kata-kata), verbal comprehension (kemampuan untuk memahami bahan verbal, berpikir verbal dan menangkap hubungan antara konsep-konsep), spatial visualization (kemampuan untuk melihat dimensi, mengimaginasikan bentuk akhir sesuatu objek dengan melihatnya pelan-pelan), number fasility (kemampuan menggunakan pikiran untuk angka-angka, dan memperhitungkan secara cepat serta tepat benda-benda yang sifatnya kuantitatif), associative memory (kemampuan untuk mengingat hal-hal yang dialami atau yang dipelajari sebelumnya), reasoning (kemampuan untuk memecahkan persoalan-persoalan secara logika, kemampuan membuat abstraksi dan kemampuan menangkap perhubungan di antara dua hal), dan perceptual speed (kemampuan untuk mengenali persamaan dan perbezaan antara objek-objek atau simbol-simbol secara pantas dan teliti serta dapat menentukan yang paling penting dan yang tidak penting).

Rabu, 21 Maret 2012

Intelegensi

Intelegensi adalah kemampuan terarah, berpikir secara rasional, dan kemampuan untuk mengatasi masalah. dan intelegensi juga sebagai kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan nya.
menurut Claparde dan Stern mengatakan bahwa intelegensi adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri secara mental terhadap situasi atau kondisi baru. dan menurut William Stern mengemukakan batasan sebagai berikut: intelegensi ialah kesanggupan untuk menyesuaikan diri kepada kebutuhan baru, dengan menggunakan alat-alat berfikir yang sesuai dengan tujuannya. menurut William ini intelegensi di pengaruhi oleh faktor keturunan, pendidikan, dan lingkungan seseorang.
Penelitian membuktikan bahwa korelasi nilai tes IQ dari satu keluarga sekitar 0,50. Sedangkan di antara dua anak kembar, korelasi nilai tes IQnya sangat tinggi, sekitar 0,90. Bukti lainnya adalah pada anak yang diadopsi. IQ mereka berkorelasi sekitar 0,40 – 0,50 dengan ayah dan ibu yang sebenarnya, dan hanya 0,10 – 0,20 dengan ayah dan ibu angkatnya. Selanjutnya bukti pada anak kembar yang dibesarkan secara terpisah, IQ mereka tetap berkorelasi sangat tinggi, walaupun mungkin mereka tidak pernah saling kenal.

Pengukuran Inteligensi
 Pada tahun 1904, Alfred Binet dan Theodor Simon, dua orang psikolog asal Perancis merancang suatu alat evaluasi yang dapat dipakai untuk mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan kelas-kelas khusus (anak-anak yang kurang pandai). Alat tes itu dinamakan Tes Binet-Simon. Tes ini kemudian direvisi pada tahun 1911.
Tahun 1916, Lewis Terman, seorang psikolog dari Amerika mengadakan banyak perbaikan dari tes Binet-Simon. Sumbangan utamanya adalah menetapkan indeks numerik yang menyatakan kecerdasan sebagai rasio (perbandingan) antara mental age dan chronological age. Hasil perbaikan ini disebut Tes Stanford Binet.